Aspirin merupakan salah satu obat yang digunakan secara luas untuk pencegahan serangan jantung dan stroke, terutama bagi individu dengan risiko tinggi.
Sebagai obat antiinflamasi nonsteroid (OAINS), aspirin memiliki sifat antiplatelet yang membantu mencegah pembentukan gumpalan darah di dalam arteri.
Penggunaan aspirin dalam dosis rendah secara rutin telah terbukti mengurangi risiko kejadian kardiovaskular pada pasien tertentu.
Aspirin bekerja dengan menghambat enzim siklooksigenase (COX), yang berperan dalam produksi prostaglandin. Prostaglandin merupakan zat yang dapat menyebabkan peradangan dan pembentukan trombus dalam pembuluh darah.
Dengan menghambat produksi prostaglandin, aspirin dapat membantu mengurangi risiko penyumbatan arteri yang berpotensi menyebabkan serangan jantung atau stroke.
Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa konsumsi aspirin dosis rendah secara teratur mampu menurunkan risiko serangan jantung pertama kali pada individu dengan faktor risiko tertentu, seperti hipertensi, kolesterol tinggi, diabetes, atau riwayat penyakit jantung dalam keluarga.
Selain itu, aspirin juga sering direkomendasikan bagi pasien yang telah mengalami serangan jantung atau stroke sebagai bagian dari terapi pencegahan sekunder untuk menghindari kejadian berulang.
Namun, meskipun manfaatnya signifikan, penggunaan aspirin juga memiliki risiko efek samping, terutama perdarahan gastrointestinal dan hemoragi otak pada individu tertentu.
Organisasi kesehatan dunia, termasuk American Heart Association (AHA) dan European Society of Cardiology (ESC), menyarankan agar penggunaan aspirin untuk pencegahan primer hanya diberikan kepada pasien dengan risiko tinggi dan di bawah pengawasan dokter.
Di Indonesia, aspirin tersedia dalam berbagai bentuk dan dosis, baik yang bisa diperoleh secara bebas maupun dengan resep dokter.
Penggunaan aspirin untuk pencegahan penyakit kardiovaskular harus selalu disertai dengan perubahan gaya hidup sehat, seperti pola makan seimbang, aktivitas fisik rutin, dan penghentian kebiasaan merokok.
Bagi individu dengan kondisi tertentu, seperti riwayat gangguan pencernaan atau alergi terhadap aspirin, dokter mungkin akan merekomendasikan alternatif pengobatan lain.
Aspirin bukanlah solusi tunggal dalam mencegah penyakit kardiovaskular, tetapi dapat menjadi bagian dari strategi pencegahan yang lebih luas jika digunakan dengan tepat.
Seperti disebutkan oleh PAFI Indramayu, konsultasi dengan dokter sangat penting sebelum memulai terapi aspirin, terutama bagi individu yang tidak memiliki riwayat penyakit jantung tetapi ingin menggunakannya sebagai langkah pencegahan.
Dengan pemahaman yang baik mengenai manfaat dan risiko aspirin, masyarakat dapat membuat keputusan yang lebih bijak dalam menjaga kesehatan jantung dan pembuluh darah.