Furosemide adalah obat diuretik yang sering digunakan untuk mengatasi retensi cairan pada pasien dengan kondisi medis tertentu.
Obat ini bekerja dengan meningkatkan produksi urine, sehingga membantu tubuh mengeluarkan kelebihan cairan dan garam.
Penggunaan furosemide yang tepat sangat penting untuk memastikan efektivitas terapi dan mencegah efek samping yang tidak diinginkan.
Furosemide biasanya diresepkan untuk pasien dengan gagal jantung kongestif, penyakit ginjal, dan gangguan hati yang menyebabkan penumpukan cairan dalam tubuh.
Selain itu, obat ini juga digunakan untuk mengatasi tekanan darah tinggi atau hipertensi.
Cara kerja furosemide adalah dengan menghambat penyerapan natrium, klorida, dan air di tubulus ginjal, yang meningkatkan produksi urine dan mengurangi volume cairan berlebih.
Dosis dan Cara Penggunaan Furosemide
Dosis furosemide bervariasi tergantung pada kondisi medis pasien, tingkat keparahan retensi cairan, dan respons terhadap terapi.
Untuk pasien dewasa dengan edema, dosis awal yang umum adalah 20–80 mg per hari, yang dapat disesuaikan berdasarkan kebutuhan klinis.
Untuk pengobatan hipertensi, furosemide biasanya diberikan dengan dosis yang lebih rendah, dikombinasikan dengan obat antihipertensi lainnya.
Furosemide tersedia dalam bentuk tablet dan suntik, di mana pemberian injeksi dilakukan di bawah pengawasan tenaga medis.
Penting untuk mengonsumsi furosemide sesuai dengan anjuran dokter untuk menghindari risiko dehidrasi dan ketidakseimbangan elektrolit.
Efek Samping dan Peringatan Penggunaan
Seperti obat lainnya, furosemide dapat menimbulkan efek samping yang bervariasi pada setiap individu.
Beberapa efek samping yang umum terjadi menurut PAFI Jakarta Selatan meliputi pusing, sakit kepala, gangguan pencernaan, dan kelelahan.
Dalam beberapa kasus, furosemide dapat menyebabkan ketidakseimbangan elektrolit, hipotensi, atau gangguan fungsi ginjal.
Pemantauan kadar elektrolit dan fungsi ginjal secara rutin sangat disarankan selama terapi dengan furosemide.
Pasien dengan riwayat alergi terhadap obat ini atau sulfonamid, serta mereka yang memiliki kondisi seperti penyakit ginjal berat, tekanan darah rendah, atau diabetes, harus berhati-hati dalam penggunaannya.
Pada ibu hamil dan menyusui, furosemide hanya boleh digunakan jika manfaat yang diperoleh lebih besar daripada risiko yang mungkin terjadi pada janin atau bayi.
Interaksi Obat dengan Furosemide
Furosemide dapat berinteraksi dengan berbagai obat lain yang dapat mempengaruhi efektivitas atau meningkatkan risiko efek samping.
Obat seperti aminoglikosida, digoxin, obat antiinflamasi nonsteroid (NSAID), dan beberapa obat antihipertensi dapat berinteraksi dengan furosemide.
Oleh karena itu, penting untuk memberi tahu dokter tentang semua obat yang sedang dikonsumsi sebelum menggunakan furosemide.